- Sertifikat Lama Tak Berlaku Lagi, SMSI Kepri Wajibkan Anggota Daftar Ulang
- Dasboard SILINA MANJA Pemkab Anambas Resmi Diluncurkan, Kinerja Organsasi Semakin Terarah dan Terukur
- Perkuat Literasi, Ketua PWI Kepri Ajak Kepala Sekolah Batam Kolaborasi dengan Media
- Pemkab Anambas Berencana Gandeng SKK Migas untuk Penuhi Kebutuhan Listrik
- Bupati Anambas Tinjau Proses Bongkar Muat Mesin PLTD PLN Tarempa
- Listrik Sering Padam, Warga Anambas Geruduk Kantor ULP PLN Tarempa
- Polsek Bengkong Serap Curhat Warga Soal Kriminalitas hingga Krisis Air Bersih
- Warga Anambas Banyak Belum Sempat Akses Program Cek Kesehatan Gratis karena Sibuk Kerja
- Peringati Hari Osteoporosis, Bupati Aneng Senam Bersama Tenaga Medis dan Lansia
- Niat Bicara Baik-Baik Soal Gaji, Pria di Bengkong Batam Justru Tega Lukai Rekannya Pakai Sajam
PT Raya Padang Langkat Buka Pos Kesehatan untuk Layani Warga di 20 Desa

Keterangan Gambar : PT Raya Padang Langkat membuka posko kesehatan di Kantor Kebun Afdeling 10, Desa Marlempang, Kecamatan Marlempang, Kabupaten Aceh Tamiang, pada Sabtu (20/12).
MELAYUNEWS.COM, LANGKAT - Menindak lanjuti bantuan bagi masyarakat terdampak banjir akhir November lalu, PT Raya Padang Langkat membuka posko kesehatan di Kantor Kebun Afdeling 10, Desa Marlempang, Kecamatan Marlempang, Kabupaten Aceh Tamiang, pada Sabtu (20/12).
Sebanyak delapan tim medis, termasuk empat dokter dari Medan (dr. Ihsan Nasution, dr. Azkarunia M, dr. Esther Anastasia, dan dr. Syafrida), didatangkan untuk memberikan pelayanan kesehatan dan pemberian obat-obatan.
Setidaknya tercatat 70 warga telah mendapatkan bantuan, termasuk belasan anak-anak.
Salah seorang warga, Dani mengatakan, dengan adanya posko kesehatan ini warga merasa terbantu karena jarak yang dekat dengan pemukiman mereka.
"Puskesmas di desa kita belum beroperasi maksimal pasca banjir, jadi kita harus jauh ke kota untuk berobat," ujar Dani.
Sementara menurut dr. Ihsan Nasution, sebagian besar warga yang berobat mengeluhkan sakit tenggorokan, batuk, pilek, demam, dan gatal-gatal.
"Ini disebabkan karena pemukiman masih terendam air dan lumpur; ketika kering, lumpur menjadi debu yang terhirup warga," jelasnya.
Layanan kesehatan ini akan terus berjalan untuk melayani tidak hanya warga masyarakat, tetapi juga karyawan PT Rapala yang bermukim di areal kebun. (SP)





































.jpg)












