- Enam Hari Tanpa Kabar, PWI Kepri Panjatkan Doa untuk Lima Wartawan yang Hilang
- THM Bersedia Kerjasama Polisi Persempit Pergerakan Narkotika di Anambas
- Kajari Anambas Lantik Dua Pejabat Struktural
- Krisis Air Bersih, Kajari Anambas Terjun Langsung Bantu Distribusi Air kepada Warga
- Mutasi Kombes Pol Eddwi Kurniyanto yang Dekat dengan Masyarakat dan Anggotanya
- Merawat Marwah Pers dan Etika Publik: PWI dan SMSI Kepri Sikapi Dinamika Komunikasi Li Claudia
- Wakil Bupati Anambas Terpilih Aklamasi Ketua DPD Partai Golkar Anambas
- Kembangkan Pertanian di Jemaja, Komisi II DPRD Anambas Koordinasi dengan Kementan
- Wali Kota Medan dan Dubes Belgia Gagas Kerja Sama Strategis
- Bobby Nasution Targetkan 5.000 Pelaku UMKM Sumut Dapat Sertifikat Halal
Minyak Pertalite Langka, Warga Perbatasan Merana

Keterangan Gambar : Ilustrasi (net)
MELAYUNEWS.COM, ANAMBAS - Permasalahan bahan bakar minyak Pertalit sampai saat ini masih menjadi kendala di Kabupaten Kepulauan Anambas yang merupakan kabupaten termuda di Kepri. Bahkan masyarakat terancam putus transportasi khususnya bagi pemilik kendaraan bermotor roda dua sebab untuk mengantar anak sekolah dan masuk kerja ke kantor pemerintahan tidak bisa karena pertalite tidak ada.
"Jangankan untuk jalan-jalan, minyak untuk antar anak ke sekolah saja tidak ada. Apalagi kalau nanti kerja, bagaimana ini. Bukan kita malas namun tidak mungkin rasanya jalan kaki pergi kekantor, jaraknya bukan dekat, kita merana kalo begini," kata salahsatu Warga, Wandi kepada media ini, Rabu(10/5/2023).
Dia menambahkan pihak agen berjanji hari Jumat yang lalu bahan bakar pertalite sudah masuk namun ketika ditunggu waktu yang dijanjikan tidak juga ada bahan bakar minyak sehingga saat ini kalaupun harganya naik Rp 20 ribu sampai 25.000 per botol tetap akan dibelinya.
"Kalau misalnya harga perbotol Rp 25 ribu tetap akan saya beli namun masalahnya hingga saat ini saya sudah keliling-keliling cari bahan minyak pertalite tetap juga tidak ada, bagaimana kita nanti untuk mengantar anak sekolah dan bekerja," ujarnya.
Wandi berharap kepada pemerintah daerah dan DPRD Kabupaten Kepulauan Anambas bisa mencarikan solusi agar permasalahan bahan bakar minyak di Kabupaten Anambas bisa tersedia tidak seperti saat ini yang hampir terjadi setiap tahun sehingga permasalahan di masyarakat ini sangat krusial.
"Kita harusnya malu kepada kabupaten-kabupaten yang lain. Mereka aja nggak pernah yang namanya mengeluhkan masalah Pertalit padahal mereka bukan penghasil minyak dan gas. Kita bertahun-tahun selalu mengelukan masalah minyak kan aneh," ujarnya. (red )

















































