- Ayub: Pelabuhan Perikanan Antang Bakal Penambah PAD Anambas
- TMMD TNI Manunggal Mulai Digelar di Desa Mubur
- Pansus LKPJ Fokus Bahas Pendapatan Asli Daerah
- Bupati Aneng Berharap Media Jaga Nama Anambas dan Berkontribusi untuk Daerah
- Abdul Hakim Sarankan Perlunya Peningkatan SDM Pengoperasian Alkes di Anambas
- Ketua DPRD Anambas: Turnamen Sepakbola Berdampak Positif Terhadap Pelaku UMKM
- Jajaran Polsek Siantan dapat Pembekalan Bahasa Inggris
- Anggota DPRD Anambas Tinjau Pasien Korban Dugaan Keracunan Makanan di RSUD Palmatak
- Ungkap Kasus PMI Ilegal, Iptu Yuli Endra Terima Penghargaan Kapolresta Barelang
- Usai Konsumsi MBG, Puluhan Siswa Dilarikan ke Rumah Sakit
Tuntut Keadilan, Relawan Desak Polda Sumut Tangkap Penghina Bobby Nasution di Medsos

Keterangan Gambar : Ratusan relawan pendukung Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution turun ke jalan menggelar aksi diam di Mapolda Sumut, Rabu (18/6)
MELAYUNEWS.COM, MEDAN - Ratusan relawan pendukung Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution turun ke jalan menggelar aksi diam di Mapolda Sumut, Rabu (18/6), sebagai bentuk protes terhadap maraknya konten penghinaan dan pelecehan di media sosial, terutama yang menyasar Bobby dan keluarganya.
Tanpa orasi, para relawan berdiri membawa pesan-pesan tajam yang menyinggung perilaku warganet. Kelompok Relawan Perempuan Tangguh saat Mulahati Simarmata membacakan puisi berbunyi, “Selamat datang di dunia maya, tempat di mana akhlak bisa logout tanpa notifikasi," mengharukan suasana.
Koordinator aksi, Irwansyah Hasibuan, Rio Siregar, dan Alexius Turnip menegaskan kehadiran mereka bukan untuk sensasi, melainkan untuk menyuarakan keadilan dan menuntut penegakan hukum atas konten digital yang dianggap melecehkan. Mereka secara khusus menyoroti dua akun TikTok, @tripx313_ dan @amora.lemos2, yang disebut-sebut sebagai pelaku penghinaan terhadap Bobby dan keluarganya.
“Kami berdiri hari ini bukan karena ingin viral, tapi karena terlalu banyak penghinaan dijadikan konten, bahan candaan tanpa empati, dan sasaran komentar mesum tanpa rasa malu,” ucap Irwansyah dalam orasinya.
Dalam pernyataan sikap, relawan menyebut komentar jahat di media sosial kini lebih cepat dari ambulans dan lebih tajam dari pisau.
Para relawan menyanyikan lagu “Kulihat Ibu Pertiwi” dan "Indonesia Raya" sebagai simbol perjuangan moral dan martabat.
Mereka juga menyampaikan tiga tuntutan kepada Kapolda Sumut: tegakkan hukum tanpa pandang bulu, tangkap pemilik akun TikTok yang menghina, dan beri keadilan untuk perempuan korban pelecehan di Sumut.
Perwakilan relawan dari kalangan millennial menyebut aksi ini sebagai dorongan agar Polda Sumut bertindak transparan dan profesional dalam menangani kasus pencemaran nama baik terhadap keluarga Gubernur.
Alexius Turnip dari Relawan Parhobas menambahkan bahwa hukum harus menjadi panglima, dan Bobby Nasution juga berhak atas perlindungan hukum yang adil. Sementara itu, perwakilan relawan dari Naga Bonar meminta agar Polda tidak lambat menangani laporan yang sudah masuk sejak Jumat lalu.
Sorotan keras disampaikan H Erwan Nasution, pembina relawan sekaligus tokoh keluarga Bobby. Ia menyayangkan sikap aparat yang terkesan melempar-lempar tanggung jawab tanpa memberi kepastian atas laporan.
“Kami sempat komplain karena perwira yang hadir pun tidak bisa memberi jawaban tegas,” ucap Erwan.
Menurutnya, laporan yang tidak kunjung ditindak bisa memperparah situasi dan memberi ruang bagi konten serupa terus bermunculan. “Ini bukan hanya soal nama baik Bobby, tapi juga martabat keluarga. Saya tidak terima keluarga kami disebut dajal,” ujarnya tegas.
Ia pun mengingatkan bahwa jika tidak ada langkah cepat dari Polda Sumut, massa yang lebih besar akan dikerahkan.
“Orang Sumut masih punya adab. Tapi kalau aparat diam, akun-akun penghinaan akan terus tumbuh. Kalau Polda hanya beri harapan tanpa kejelasan, kami akan datang lebih banyak,” tambah Erwan.
Menanggapi aksi tersebut, Kabag Wasidik Direktorat Cyber Polda Sumut Kompol Darwin Sinaga menyatakan bahwa pihaknya akan bekerja secara profesional dan menyerahkan proses pada penyidik.
Dalam aksi ini, puluhan kelompok relawan dari berbagai latar belakang hadir, termasuk Perempuan Tangguh BN, AMPI Sumut, Parhobas, Projo Muda Sumut, Naga Bonar, dan puluhan lainnya, menunjukkan solidaritas lintas komunitas dalam menuntut keadilan atas pelecehan digital yang dinilai sudah kelewat batas.(SP)


















































