- Anggota DPRD Anambas Tinjau Pasien Korban Dugaan Keracunan Makanan di RSUD Palmatak
- Ungkap Kasus PMI Ilegal, Iptu Yuli Endra Terima Penghargaan Kapolresta Barelang
- Usai Konsumsi MBG, Puluhan Siswa Dilarikan ke Rumah Sakit
- Halal Bihalal Gubernur Kepri di Anambas Larut Dalam Suasana Kebersamaan
- Kapolresta Barelang Dialog dengan Warga di Bengkong lewat Jumat Curhat
- Polsek Siantan Perkuat Sinergi dengan Awak Media
- Bupati Anambas: Pelayanan RSUD Tarempa Tipe C Jangan Muka Masam Namun Senyum dan Ramah
- Pemko Medan Dorong Inovasi Pelestarian Budaya Melayu
- Paskah, Jajaran Polsek Bengkong Lakukan Pengamanan Gereja
- Tampung Aspirasi, Polsek Bengkong Audiensi dengan Masyarakat
SMSI Bintan dan GAN Kepri Lawan Premanisme Lewat Edukasi dan Kolaborasi

MELAYUNEWS.COM, TANJUNGPINANG — Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Bintan, Ramdan, menjadi salah satu pemateri dalam diskusi Ngobrol Perkara Indonesia (Ngopi) yang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Pusat Gaung Anak Negeri (DPP GAN) Kepri, Rabu (28/5/2025).
Diskusi yang berlangsung di Kedai Kopi Batman, Tanjungpinang, ini mengangkat tema “Menggugat Premanisme di Era Digital” dan juga menghadirkan narasumber dari Polres Bintan, yakni Iptu Surya.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh LSM, perwakilan mahasiswa, serta pegiat media, sebagai bentuk dukungan terhadap kampanye nasional anti-premanisme yang saat ini tengah digalakkan pemerintah.
Ketua GAN Kepri, Juandi, mengatakan bahwa premanisme merupakan fenomena sosial yang kompleks.
Menurutnya, praktik premanisme tidak hanya mengancam keamanan masyarakat, tetapi juga memengaruhi dinamika politik dan sosial secara luas.
"Dalam beberapa tahun terakhir, premanisme bahkan telah menjalar ke media sosial, menciptakan ruang baru bagi intimidasi dan kekerasan verbal. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan penanggulangan harus dilakukan secara menyeluruh dan kolaboratif," ungkap Juandi.
Sementara, Ketua SMSI Kabupaten Bintan, Ramdan menambahkan, diskusi ini bertujuan untuk menggali perspektif dari berbagai pihak guna mencari solusi konkret yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sosial dan digital masyarakat.
“Kami ingin membangun ruang diskusi yang aman, inklusif, dan produktif untuk mengedukasi masyarakat akan bahaya premanisme serta merumuskan langkah-langkah strategis untuk mencegah dan menanggulanginya,” tambahnya.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang kolaborasi antara unsur masyarakat sipil, aparat kepolisian, dan media dalam memperkuat kesadaran kolektif terhadap isu premanisme yang kian berkembang, terutama di era digital yang serba terbuka.(red)


















































